Dari Bakso untuk Selimut

Sebut saja saya Nisa. Ibu dari seorang anak yang baru berusia 2,5 bulan. Beberapa hari belakangan ini sering turun hujan di tempat saya. Sampai-sampai pernah di satu hari, saya kehabisan stok popok untuk bayi saya. Kemudian saya berinisiatif untuk memakaikan celana yang sudah saya beli ketika hamil lalu. Walaupun sebenarnya celana tersebut masih kebesaran. Tetapi tetap saya pakaikan. Karena mau bagaimana lagi, tidak ada pilihan lain bagi saya waktu itu. Kalau membeli yang baru, budget untuk itu tidak dianggarkan. Jadilah ia memakai pakaian seadanya. Yang penting ia dalam keadaan hangat. 

Saat itu saya sedang menggantikan popok nya ketika ia buang air kecil, karena kondisi sepanjang hari mendung disertai dengan hujan rintik-rintik membuat udara terasa cukup dingin di kulit. Sampai saya pun memilih untuk memakai baju yang cukup tebal dan hangat. Saya pun segera menyelimuti bayi saya dengan selimut terhangat yang saya punya.

Tiba-tiba saya teringat dengan salah satu poster yang pernah saya lihat, entah di grup WA mana saya lupa. Redaksi posternya juga saya lupa. Tetapi intinya, ada sebuah ajakan untuk peduli terhadap sesama manusia terutama sesama Muslim di Palestina. Peduli dengan keadaan mereka yang sedang terusir dari  negrinya, terusir dari rumah-rumah nya yang nyaman mereka tinggali. Sebentar lagi musim pun tidak bersahabat dengan kondisi mereka. Musim dingin akan segera menyapa mereka dan bisa jadi akan terus menemani mereka selama beberapa waktu. Kondisi yang terusir lagi tak memiliki pakaian hangat, tak memiliki rumah untuk berlindung dari terpaan musim, tak memiliki stok makanan yang cukup untuk sekedar mengisi perut. Mungkinkah mereka bisa bertahan hidup? 

Selain perang melawan penjajah, sebentar lagi mereka juga akan berperang melawan dinginnya malam. Sungguh tak terbayangkan jika diri ini berada di posisi seperti itu tanpa memiliki bekal barang baju hangat atau selimut satu biji pun. Belum lagi anak-anak apalagi bayi yang baru lahir. Tak mungkin bisa bertahan dengan ganasnya serangan dingin yang menusuk hingga ke tulang.

Ah, tak mampu rasanya membayangkan hal itu terjadi pada bayi mungil ku. Selimut nya tersibak sedikit saja saat ia tak sengaja menggerakkan kaki nya sudah membuatku khawatir akan dirinya. Khawatir ia kedinginan. Khawatir ia masuk angin. Khawatir ia sakit. Digigit nyamuk satu pun saya bahkan sampai rela mengejar-ngejar si nyamuk sampai penyet di tanganku. Baru seperti itu saja aku tak sanggup. Apalah lagi jika harus perang melawan kedinginan tanpa selimut yang tebal bahkan tanpa baju yang cukup hangat plus dihujani rudal dan bom pula. Menangis hati ini mengetahui kondisi mereka.

Keadaan diri ini yang jauh lebih baik dan lebih nyaman dari mereka seharusnya membuat diri ini lebih banyak bersyukur. Betapa kerdil nya iman ini dibandingkan mereka yang disana. Masih kecil sudah hapal Al-Qur’an. Lah ini sudah berumah tangga juz ‘amma pun gak hapal-hapal. *curhat* Abaikan..

Dengan tulisan ini, sebenarnya saya berniat untuk mengajak para pembaca, khususnya diri saya pribadi, juga ikut merasakan apa yang sedang saudara kita rasakan disana. Sedikit uluran bantuan kita akan sangat berharga bagi mereka. Bukan untuk gaya-gayaan atau bermewah-mewahan pamer dengan yang lain. Tapi hanya untuk sekedar BERTAHAN HIDUP. Untuk bisa terus HIDUP. Mari kita bantu saudara kita dengan bantuan apapun yang kita bisa. Hal yang sederhana dan mudah misalnya kita donasikan 30 rb saja. Itu akan sangat berarti bagi mereka. Kita lakukan beramai-ramai, berjamaah, karena kalau sendirian takkan lah bantuan itu terasa. Atau jangan 30 rb deh. Anggap 10 rb saja kita donasikan untuk mereka melalui lembaga/yayasan/komunitas yang terpercaya dan amanah. Kita bisa ajak orang-orang terdekat untuk turut berpartisipasi. Jika ada 10 rb orang membantu maka berapa donasi yang bisa kita berikan kepada mereka? 100 jt. WOW jumlah yang fantastis. Berapa banyak selimut dan baju hangat yang bisa mereka dapatkan dengan itu? Kita hanya memberi 10 rb, yang setara dengan semangkuk bakso. Anggaplah hari ini kita libur dulu makan baksonya. Kita kasih tuh 10 rb nya buat donasi dan kita ajak yang lain untuk melakukan hal yang sama. Maka insya Allah mereka akan dapat melanjutkan hidup nya dengan izin Allah. So, apa yang kita tunggu? Kita bisa melakukannya sekarang juga! Yuk bantu sesama! Dimulai dari diri sendiri dan saat ini juga.

Berikut adalah beberapa lembaga/yayasan/komunitas yang saya ketahui terpercaya dan amanah diantaranya KNRP, Kasih Palestina, Dompet Dhuafa, dan ACT. Bukan endorsement. Jika ada referensi yang lain boleh lah daku di beri tau juga.. hhehe 🙂

Advertisements

Author: Omak Zain

Learning to become a wonderful mama for childs and istri sholiha for husband

2 thoughts on “Dari Bakso untuk Selimut”

  1. Teh octy.. aku baru tau ada komen nyaa.. hhaha.. maapkan daku yg masih agak norak dgn blog 😅
    Itu kerjasamanya typo bukan teh? Aku asa bingung..
    Saling tolong menolong dan mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran ya teh 😙

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s